Merajut Indahnya Cinta Bersama BEMJ Kimia
Bismillah...
Rumah adalah sebuah tempat bernaung, sebuah tempat penuh
cerita, terkumpulnya suka dan duka, dan sebuah atap yang menyatukan sebuah
keluarga yang memiliki satu visi yang sama. Sementara keluarga adalah tokoh
yang mewarnai hari kita dengan berbagai cerita mulai dari tangis hingga tawa,
berbagi manis dan pahit bersama, serta tokoh yang mengajari banyak hal kepada
kita untuk memberikan "sesuatu" pengalaman berharga untuk kita di
masa yang akan datang. Dan disinilah saya saat ini berada, sebuah rumah tanpa
atap dan dinding tetapi menyediakan sebuah keluarga yang luar biasa untuk saya,
keluarga BEMJ Kimia. Mereka keluarga yang mampu mengajarkan banyak arti hidup
dengan memainkan peran mereka sesuai karakternya.
Menurut pandangan orang awam dan ini merupakan penilaian
saya juga dahulu, BEM hanyalah ajang terbuka untuk orang-orang yang
"numpang eksis". Sebuah organisasi yang hanya ditempati oleh orang-orang
yang menginginkan namanya tercantum dalam sebuah struktur agar mampu dipandang
lebih oleh orang lain. Ya, itu pemikiran saya dahulu, sebelum saya melewati
PKMJ (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan). Inilah momen perjalanan
pertama saya dimulai. Di kegiatan ini saya mulai tahu apa sebenarnya BEM itu,
apa arti kepemimpinan, dan amanah berat apa yang akan kita hadapi di depan
setelahnya. Ada momen disaat saya pada akhirnya merasa takut untuk maju karena
saya sadar, hanya orang-orang berpundak kuat lah yang mampu melewati segala
rintangan dalam organisasinya nanti, dan saya tahu betapa lemahnya saya yang
bahkan dari masa SMA dahulu hanya menganggap remeh organisasi yang saya ikuti.
Tapi inilah yang dinamakan takdir, seberapa keras pun saya mencoba mundur, pada
akhirnya disinilah saya berada, berjalan bersama kalian mendaki jalan setapak
demi setapak untuk berkumpul bersama nantinya di tempat tujuan kita.
Setelah melalui PKMJ, saat oprec BEMJ dibuka, saya
mengambil departemen P2M karena besarnya keinginan saya terjun di dunia
advokasi. Mengikuti tahap wawancara berlalu, dan pengumuman anggota lewat pesan
singkat pun tiba, rasa kecewa pertama saya dapatkan saat itu. Betapa besar
harapan saya untuk bisa menjadi anggota departemen itu, tapi takdir justru
membawa saya ke dalam lingkaran cinta para pengusaha muda BEMJ Kimia. Kecewa,
sedih, bingung, dan merasa ditolak membuat saya berpikir, mungkinkah saya bisa
bertahan? Ataukah nantinya saya pun akan menjadi bagian dari anggota BEM yang
hanya tertulis dalam struktur dan perlahan mundur tanpa berita? Betapa kejamnya
keputusan itu? Apa yang salah dari hasil wawancara saya hingga saya tak pantas
ada di departemen itu? Sejuta pertanyaan itu muncul dalam benak saya saat pesan
tertulis mengatakan saya diterima menjadi anggota Entrepreneur.
Saat kumpul perdana diadakan, saya sudah berencana
"mangkir", tapi entah apa yang membawa langkah kaki saya hingga pada
akhirnya saya berada disana dengan keluarga baru saya yang belum saya tahu sama
sekali tokohnya. Setelah sesi perkenalan dan penjelasan mengenai proker,
pembagian PJ pun diadakan, dan takdir yang saat itu menurut saya
"aneh" menunjuk saya menjadi bendahara di departemen ini. Saya yang
berniat "kabur" justru diberikan amanah yang berat untuk mengurus
segala keuangan di departemen itu. Saya yang bahkan belum pernah sekalipun
memiliki pengalaman untuk mengurus keuangan dan segala macamnya. Saat itu saya
mulai bertanya, mungkinkah takdir tak mengizinkan saya pergi? Mungkinkah tempat
ini yang pada akhirnya akan menjadikan diri ini lebih baik lagi? Benarkah yang
dikatakan kakak-kakaknya bahwa amanah tak pernah salah memilih pundak? Lalu
sudah tepatkah amanah itu untuk saya pikul?
Dengan berlalunya hari, pertanyaan itupun perlahan
hilang. Sebuah "keterpaksaan" yang ada di hati saat awal masuk dalam
keluarga ini perlahan pudar digantikan rasa cinta yang tumbuh dengan sendirinya
dalam hati ini. Cinta yang mulai dibangun dari departemenku sendiri, sebuah
bagian terkecil dari keluarga besar BEMJ Kimia. Cinta yang perlahan mengalir
dari departemen ke BEMJ pula. Ternyata satu kalimat yang pernah saya dengar
dahulu benar adanya. "Amanah yang akan membuat kita menyatu". Kita
yang pada awalnya hanyalah orang-orang yang dengan takdir-Nya berada dijalan
ini dan berpikir apapun yang kami jalani hanya untuk memenuhi proker, pada
waktunya perlahan mulai menyatu, mulai saling mengenal karena kondisi-kondisi
yang tanpa disengaja membuat kita harus saling berinteraksi. Kekeluargaan itu
ada, ya, begitu terasa menjelang akhir kepengurusan kita walau mungkin belum
semua bisa merasakan memiliki BEM sepenuhnya, meski belum semua merasakan arti kekeluargaan
itu.
Seperti sebuah kalimat yang telah biasa saya dengar di
awal kepengurusan ini, bukan organisasi namanya jika tak ada tangisan di
dalamnya, bukan organisasi bila kita tak pernah menangis dan merasa mengerjakan
segalanya seorang diri. Ya, itu yang pernah saya rasakan. Saya yang dulu merasa
tak percaya bahwa akan ada tangis didalamnya baru bisa membenarkan saat saya
mengalaminya sendiri. Saat amanah terberat itu jatuh dipundak saya, saat saya
harus belajar memimpin orang-orang dengan berbagai karakter masing-masing,
pundak ini terasa amat lemah, dan tak dipungkiri tangis itu tak hanya sekali
dua kali menghampiri. Saat amanah silih berganti datang, dalam satu tahun
kepengurusan ini, bukan sekali dua kali tangis membasahi pipi, bukan sekali dua
kali lemahnya jiwa ini berpikir untuk mundur dari jalan dakwah ini. Tapi
disanalah arti keluarga berperan penting. Saat lelah kembali muncul, bersama
keluarga kecil entrepreneur kembali saya rajut sebuah rasa rindu, rasa cinta
dan rasa kebersamaan yang membuat semangat itu perlahan kembali. Ya, disanalah
peran mereka, keluarga pengusaha muda yang selalu berhasil membakar kembali api
semangat dalam jiwaku. Tangis, tawa, suka, duka, manis dan pahit telah kulalui
bersama dengan keluarga besar BEMJ Kimia ini, hingga pada akhirnya diri ini
mengerti, inilah yang dinamakan "keluarga kedua".
Sahabat, tibalah
masanya... Bersua pasti ada berpisah...
Sepenggal bait diatas menyadarkanku bahwa masa itu telah
tiba, perpisahan hanya tinggal menghitung waktu. Sekeras apapun kita menolak,
tongkat perjuangan itu akan tetap bergulir. Tiba saatnya bukan lagi kita yang
bertanya dan bergantung pada kakak-kakak kita tetapi kita yang mulai mencoba
memberi dan menuntun adik-adik kita. Sudah saatnya kita bukan lagi menerima
uluran tangan sang kakak untuk kuat berdiri, tapi sudah saatnya kita berjalan
tegak menuju jalan sendiri. Sungguh, perpisahan bukanlah sebuah akhir, karena
keluarga ini akan tetap menjadi milik kita selamanya. Justru perpisahan ini
akan menjadi awal dari pertemuan-pertemuan kita berikutnya di masa yang akan
datang. Keluargaku, saat kita jauh nanti, ingatlah selalu hari ini, ingatlah
selalu masa ini, masa saat kita masih saling bergenggaman tangan menyebrangi
lautan yang luas.
Komentar
Posting Komentar