Wawancara Singkat Seputar Kampus Tercinta


Pada sore hari ini, Jumat 8 Mei 2015, saya melakukan wawancara singkat seputar isu-isu yang tengah beredar di kampus tercinta Universitas Negeri Jakarta. Narasumber yang saya hubungi untuk wawancara ini bernama Adan Rusdianto. Beliau berkerja sebagai cleaning service di IDB 2, kampus A UNJ. Mas Adan ini berusia 20 tahun dan tinggal di Kabupaten Subang. Saat ditemui sore tadi, beliau dan salah seorang temannya sedang membersihkan ruang 710 di IDB 2. Dia mengatakan bahwa dia telah bekerja di UNJ sebagai cleaning service ini sudah setahun.
Hal pertama yang saya tanyakan adalah pendapatnya tentang kampus tercinta ini. Beliau mengatakan, UNJ itu secara umum kampus yang bagus dan berkualitas. Dosen-dosen yang mengajar di kampus ini pun merupakan dosen-dosen yang handal dan berkualitas dalam mengajar. Selain itu keaktifan mahasiswanya di kampus juga patut diacungi jempol. Satu hal yang disesalinya adalah kurangnya kesadaran mahasiswa UNJ akan kebersihan lingkungan sekitarnya terutama di gedung IDB sendiri. Padahal di gedung utama itu telah tersedia banyak sekali tempat sampah di setiap pojok atau depan pintu masuk ruangan. Bahkan, di setiap kelasnya pun disediakan tempat sampah kecil untuk menampung sampah-sampah semacam kertas.
Setelah itu saya menanyakan apa saja isu-isu yang telah dia dengar seputar kampus UNJ beberapa waktu belakangan ini. Dia mengatakan isu yang tengah beredar yaitu soal demo di Fakultas Ilmu Sosial terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dosen di Fakultas tersebut.
Berita soal demo di FIS itu juga sudah beredar sejak awal April lalu, dimana beritanya pun sempat ramai di akun Facebook UNJ sendiri. Banyak pula komentar tentang keprihatinan dan ketidaksetujuan mahasiswa UNJ terkait pemostingan berita tersebut karena sebagian merasa kasihan dengan korban sendiri dan sebagian yang lain setuju untuk mencegah terulangnya kejadian yang sama di Fakultas yang lain.
Menurut Mas Adan, isu itu bisa beredar luas karena kelalaian dosen dan mahasiswa sendiri. Tentunya isu itu awalnya hanya beredar di kisaran Fakultas tersebut, tapi faktor lalai ini menyebabkan isu itu bisa beredar luas bahkan hingga ke para cleaning service sekalipun. Dia bilang, sebelum demo itu mencuat, dosen tersebut memang beberapa kali terdengar melakukan tindakan sejenis itu, namun kasusnya baru terungkap kali ini.
Beliau mengatakan, solusi yang terbaik itu seharusnya dilakukan mediasi antara pihak terkait, yaitu pihak dosen yang dilaporkan maupun pihak mahasiswi yang menjadi korban pelecehan tersebut. Seharusnya berita ini cukup diselesaikan oleh pihak internal untuk menjaga nama baik sang mahasiswi juga dosen tersebut, bukan beredar luas di lingkungan kampus apalagi sampai tersebar di Fanpage yang sejatinya tidak hanya diikuti oleh mahasiswa UNJ saja, tapi diikuti oleh masyarakat lain yang bukan mahasiswa atau civitas akademika UNJ sendiri. Sebaiknya dari kedua belah pihak didapatkan satu kesepakatan damai atau apapun demi menjaga agar isu ini tidak berkembang luas.
Miris memang saat mengetahui pendapat Mas Adan sendiri mengenai isu tersebut karena kampus kita yang terkenal dengan kualitas dosen dan mahasiswanya yang bagus harus tercoreng dengan berita tersebut. Niat baik penyebaran berita agar tidak terjadi kasus serupa di lain tempat juga perlu diteliti ulang, karena nyatanya penyebaran berita ini juga berdampak negatif. Tersebarnya berita ini tentu memberikan tekanan batin tersendiri bagi korban. Selain itu, nama baik korban dan dosen terkait pun harus ikut tercoreng. Sayangnya, berita tersebut pun telah terlanjur menyebar dan tak bisa dihapus lagi. Satu-satunya yang bisa kita ambil dari kasus ini adalah bagaimana caranya agar kasus serupa tidak terulang lagi dan membuat buruk nama kampus tercinta.
Sampai disana wawancara saya dengan Mas Adan sendiri. Setelah mengucapkan terima kasih untuk waktu luangnya, saya pun pamit dan membiarkannya melanjutkan pekerjaannya kembali. Sekian dari hasil wawancara singkat saya dengannya. Wawancara kali ini pun memberikan satu pelajaran lain untuk saya agar bisa ikut mencegah terjadinya isu atau kejadian serupa, baik di Fakultas saya sendiri, atau di fakultas lainnya di kampus hijau ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

Tiga Hari yang Tak Terlupakan

Merajut Indahnya Cinta Bersama BEMJ Kimia