Sepenggal Kisah Tentang Kita

Bismillah...
Kali ini aku ingin bercerita. Bukan tentang cinta, bukan soal romansa, bukan tentang dia dia dan dia, tapi tentang kita. Keluarga kecil yang kumiliki di BEM Kimia. Kami dipertemukan dalam satu nama, para pengusaha muda. Kisah ini dimulai dari awal fiksasi keluarga BEM Kimia 2016/2017, awal tatap muka kita. Saat pertama aku mengenal kalian... Ah sepertinya aku salah. Halaman pertama kisah ini sudah dimulai jauh sebelum adanya fiksasi maupun open recruitmen anggota BEM, tapi sejak kalian pertama masuk di Universitas Negeri Jakarta, bertemu dengan kami para panitia MPAJ Kimia.
Saat itu aku masih seorang adik kecil di BEMJ Kimia yang masih sering minta dirangkul dan dipapah untuk menjalankan amanah yang dititipkan-Nya padaku. Bukan, bukan adik kecil yang baru pandai merangkak. Tapi adik kecil yang sebenarnya sudah mampu berjalan namun masih memiliki ketakutan untuk melangkah jauh. Adik kecil yang dipaksa untuk menjadi dewasa karena kata kakak-kakak kami, "Sekarang kalian sudah menjadi kakak. Adik-adik itu, tanggung jawab kalian untuk mendidiknya." Tak salah lagi, kurang lebih begitu kata mereka. Ah, bagaimana aku harus menyambut langkah kaki kalian? Bagaimana caranya aku merangkul dan membimbing kalian, kalau diri ini pun rasanya tak mampu untuk berjalan tegak tanpa topangan mereka?
Tak bisa kutemukan jawabannya. Yang aku tahu saat oprec panitia MPAJ, tanganku menulis disana, bagian sie pendamping karena berharap mungkin dengan mengenal kalian secara langsung dapat membuatku belajar berjalan lebih tegak. Tapi ternyata saat itu Allah belum mengizinkanku untuk berdiri sedekat itu dengan kalian. Allah lebih memilih menguji dan mengenalkan diri ini pada sosok-sosok kawan yang hebat di tempat lain. Aku harus berada di belakang layar, tak bisa mengenal kalian dengan lebih dekat selain cerita yang dikirimkan kakak pendamping tentang kalian.
Aku masih tak menyerah. Mungkin Allah hanya tahu aku belum begitu pantas untuk mengenal kalian saat itu. Hingga oprec panitia PKMJ pun dibuka, aku kembali mencoba keberuntungan di tempat yang sama sebagai fasilitator. Hanya ingin tahu bagaimana rupa sifat adik-adik yang akan bekerjasama denganku nanti. Kali ini Allah memberikan kesempatan itu, kesempatan untuk mengenal kalian lebih dekat.
Di tempat itu aku sadar, kalian generasi yang sangat aktif, terlalu aktif hingga aku bingung sendiri bagaimana harus mengarahkan kalian. Setiap kepalanya memiliki sifat yang berbeda, tapi aku menyadari satu hal, bahwa pendekatan yang harus kulakukan tak jauh beda. Namun saat itu aku hanya berhasil dekat dengan ketujuh adikku di kelompok 4 PKMJ. Pun mereka bukan anak-anak yang akhirnya berada di dalam satu keluarga kecil yang sama denganku.
Waktu demi waktu berlalu, dan aku tahu perjalanan ini makin dekat menghampiri waktu pertemuan kita. Mendekati waktu perpisahan dengan kakak-kakak kami, kakak 2013. Dan yang aku rasakan justru makin tak siap untuk menemui kalian. Lucunya. Masih terbayang kebersamaan dengan keluarga itu, keluarga kecil yang mendewasakanku. Keluarga kecil yang selalu menyiapkan diri ini untuk menemui kalian.
Tapi waktu terus berputar kan? Dan ketika saat itu tiba, aku masih setia disini, di tempat ini. Tempat yang dulu aku awali dengan terpaksa, ternyata kini memaksaku untuk tetap ada disini dengan sejuta kenyamanan yang sudah diberikan keluarga di dalamnya. Aku berdiri disini untuk menemani teman-temanku, Rara dan Opi untuk menyambut kalian. Anggota keluarga baru kami. Dengan kakak 2014 yang lain kami berdiri mencoba membangun sebuah rumah untuk kalian, persis seperti apa yang kakak-kakak dahulu berikan kepada kami.
Masih teringat jelas saat Rara mengajukan ke 14 nama itu meminta pendapatku. Rasanya... Aku bahkan tak mengenal satupun adik dalam nama-nama itu kecuali Elis dan Rainy. Elis pun aku tahu karena ia adalah kaisur dari sahabatku si ibu bendahara. Rainy? Sebenarnya tidak tahu juga sosoknya yang mana, cuma tahu ada nama Rainy yang meng-add di akun Facebook-ku. Lalu saran apa yang bisa aku berikan? Aku cuma tahu, aku percaya Rara sudah mengenal kalian saat nama kalian ia tuliskan disana, dalam daftar itu.
Hari fiksasi itupun tiba. Meski ada beberapa nama yang berubah dari daftar yang diajukan, aku hanya tahu bahwa kalian adalah adik-adik yang harus aku rangkul lebih dulu sebelum merangkul adik di departemen lain. Saat pertama aku mengenal kalian, kalian terlihat amat pendiam, pemalu tapi ternyata... Ya coba kalian jawab sendiri ya hahaha..
Awalnya aku kira mudah merangkul kalian, mudah mendekati kalian, mudah membuat kalian membuka diri. Tapi ternyata....proses mengenal kalian harus berjalan amat lama. Berkali-kali rasanya ingin menyerah karena rasanya kalian selalu menutup pintu saat aku bahkan belum bisa mengetuknya. Dan di saat itu aku hanya merasa rindu, rindu keluarga kecilku yang dulu. Sering kukatakan itu pada Rara. Tapi Rara selalu bilang, kalian pun sebenarnya sama baiknya dengan keluarga kita yang dulu, kalau aku berhasil dekat dengan kalian. Aku merasa tak memiliki keluarga yang sama lagi. Sering kukeluhkan pada Rara, dulu grupnya rame ya Ra, dulu kita gak sediem ini kan Ra, kok dulu kita berisik di grup tapi adik-adik kita sepasif ini, dulu, dulu, dan dulu. Terlalu banyak keindahan keluarga yang dulu sehingga aku terlalu sering membandingkan keadaan itu. Beruntungnya aku memiliki kadept yang sabar mendengar keluhanku, yang sabar memintaku untuk melihat ke masa sekarang. Toh dulu juga kakak-kakaknya yang memberikan kenyamanan itu sampai akhirnya kita menjadi adik yang sangat aktif bukan? Mungkin jika keluarga seperti itu belum aku rasakan, artinya kami sebagai kakak gagal memberikan kenyamanan itu pada kalian bukan?
Sejak itu aku terus berusaha mendekati kalian, menjadi orang yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), mencoba meramaikan grup WA kita meski hanya satu dua yang muncul. Sampai suatu hari amanah itu menyapaku. Amanah untuk menjadi koordinator WE. Harusnya aku sudah tahu waktu itu akan tiba, bukankah itu perjanjianku dengan Rara dulu? Tapi rasanya berat saat aku bahkan belum benar-benar bisa dekat dengan kalian semua, bagaimana aku bisa memberikan tugas-tugas pada kalian nanti. Tapi sekali lagi Rara bilang, aku hanya perlu memercayai kalian. Percaya aja kalian anak-anak yang bertanggung jawab dengan amanah kalian, dan aku melakukan itu.
Aku memercayai kalian, terlalu memercayai kalian hingga suatu ketika ada kekecewaan tersendiri di hati ini pada kalian. Tak masalah, ini hanya cara Allah yang menegurku karena terlalu meletakkan harapanku pada kalian, bukan pada-Nya sang pemberi amanah. Di tengah jalan, saat grup WE maupun entrep sepi, rasanya sedih. Aku terus bertanya, apa aku telah gagal juga merangkul kalian di kepanitiaan TEKIM ini? Aku harus apa? Kalian sibuk dengan MPA, lalu aku hanya bisa bersabar sampai kalian sadar TEKIM juga masih menunggu kalian.
Saat putus asa, aku bertanya kepada murobbiku, menyampaikan keluh kesahku. Beliau juga pernah menjadi panitia TEKIM dulu. Lalu jawaban beliau diluar apa yang kupikirkan. Beliau mengatakan, "Berapa staff kamu yang tersisa? Berapa banyak 2014 yang masih setia dan ada? Kirim saja robitoh kepada mereka yang mulai pergi, Allah maha pembolak-balik hati manusia. Tetap jalanlah dengan mereka yang masih setia bertahan. Kualitas lebih penting dibanding kuantitas." Ucapan itu menyadarkanku apa yang harus kulakukan setelahnya. Beliau benar, cepat atau lambat kalian pun kembali. Dan acara itu dapat berlangsung dengan baik diluar apa yang aku perkirakan.
Aku tak tahu kapan persisnya aku mulai mencintai kalian, adik-adik yang kadang nakal, kadang susah dibujuk, yang kadang suka minta diperhatiin, yang terkadang pemalu, kadang ramai, kadang gak tau malu, dan sering membuatku bangga. Di periode ini aku mulai paham bagaimana rasanya khawatir ketika amanah-amanah berat menyapa kalian. Khawatir kalian pergi, khawatir kalian menyerah, khawatir kalian belum siap. Tapi ternyata kalian lebih kuat dari apa yang kupikirkan, kalian bisa melewatinya. Aku tak pernah tahu, sulitkah kalian melaluinya? Adakah tangis yang kalian lalui seperti yang kurasakan dulu? Kalian tak pernah menceritakan apapun, sehingga aku hanya tahu kalian hebat bisa melewatinya.
Sejujurnya aku menunggu, selalu menunggu kalian datang sendiri untuk bercerita tentang segala kendala yang kalian hadapi. Tapi... kalian tak pernah datang dengan sendirinya, ditanyapun kalian tak bercerita, jadi aku pikir kalian cukup kuat, atau mungkin kalian belum begitu memercayaiku sebagai kakak.
Kini, rasanya ada sedikit sesal karena kita baru bisa sedekat ini menjelang akhir kepengurusan. Rasanya berat untuk meninggalkan kalian saat aku mulai menyayangi kalian. Ah, kenapa tidak sejak dulu? Ah, kenapa selama ini waktu yang kita butuhkan untuk menjadi sebuah keluarga?
Waktu perpisahan itu telah tiba, langkah kaki kami kakak-kakak kalian harus berhenti disini. Kami sudah mengantarkan kalian ke pintu gerbangnya. Sudah saatnya kalian melangkah sendiri, membangun dan memperbaiki segala kekurangan yang ada pada kepengurusan kami. Kalian hebat, kalian kuat. Kami hanya berhenti mengarahkan kalian, bukan berarti kami pergi. Karena seorang kakak akan tetap menjadi kakak meski keluarga yang baru telah terbentuk. Jangan pernah sungkan untuk bercerita, jangan pernah takut untuk sekedar bertanya, jangan pernah ragu untuk mengingatkan langsung jika kalian merasa kami meninggalkan kalian. Kalian mengajarkan banyak hal pada diri ini. Belajar sabar, belajar memahami, belajar mengerti, belajar memaklumi, dan banyak lagi yang mungkin tak bisa disebutkan.
Tahukah kalian? Rasanya hati ini sedih saat bercanda dengan kalian di grup selepas Sidang Umum beberapa waktu lalu. Sedih karena cepat atau lambat grup kita akan sepi, kalian harus meramaikan grup baru lagi. Rasanya sedih cepat atau lambat tak ada lagi yang iseng ngeledekin di grup, gak ada yang sok-sokan ngambek lagi, gak ada yang bisa diambekin lagi. Ah, aku pasti akan amat merindukan kalian. Merindukan keluarga kecil yang dulu sulit kucinta, sulit kuterima, sulit kuresapi kebersamaannya, tapi memberikan rasa sayang yang luar biasa bagiku sendiri di akhir kepengurusan. Sesekali jadi kakak dan teman yang manis buat kalian boleh kan? Kali ini aja ya, cuma mau bilang aku sayang kalian, kakak-kakak dan adik-adik yang luar biasa.

Tak terasa aku telah tiba disini, di gerbang cerita kita. Gerbang yang akan menjadi tempat kalian memulai semuanya dengan status kakak. Dimanapun kalian ditempatkan nanti, baik dalam BEM maupun kepanitiaan TEKIM, tetaplah jadi orang yang hebat, tetaplah menjadi luar biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

Tiga Hari yang Tak Terlupakan

Merajut Indahnya Cinta Bersama BEMJ Kimia