Pemuda yang Dirindukan Bangsa
Bismillah
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia.” –Ir. Soekarno
Hanya dengan membaca quotes di atas kita dapat melihat betapa
besarnya peranan pemuda bagi dunia, betapa berharganya pemuda bagi kemajuan
bangsa, serta betapa dibutuhkannya peranan pemuda dalam perbaikan peradaban.
Pemuda adalah benih-benih kehidupan, sosok-sosok yang masih memiliki semangat
tinggi, sosok yang masih mempunyai jiwa yang membara, yang dinilai mampu untuk
merubah suatu peradaban menjadi lebih baik.
Lalu, bagaimanakah gambaran pemuda
Indonesia saat ini? Bisa kita lihat jumlah pemuda Indonesia mencapai setengah
dari jumlah keseluruhan penduduk di Negara ini. Namun, sudah banyakkah
perubahan yang mereka ciptakan? Kebanyakan pemuda sekarang hanya sibuk berdiam
diri di rumah beralaskan kasur dengan fasilitas wifi dan sibuk mengotak atik akun sosial medianya tanpa sadar
menutup mata dari lingkungan luarnya. Sebagian dari mereka adalah golongan orang-orang
yang bisa dibilang dapat mengenyam pendidikan, merasakan bangku sekolah tapi
tak sedikitpun berniat memberikan kontribusi mereka kepada Negara.
Negeri ini merindukanmu wahai
pemuda, negeri ini menantimu, bangsa ini menunggu kebangkitanmu. Pemuda seperti
apa kiranya yang dinantikan bangsa kita? Diakah seorang yang pandai, mendapat
gelar sarjana sana sini tapi hanya sibuk mengabdikan dirinya pada perusahaan
asing? Diakah orang yang mengenyam pendidikan hingga luar negeri dan memilih
menutup mata dengan keadaan bangsa ini? Apakah seperti itu sosok pemuda yang
kita nantikan?
Wahai pemuda, lihat negeri ini,
kesengsaraan merajalela dimana-mana. Ketidakadilan menyebar hampir di segala
penjuru negeri. Rakyat-rakyat kecil menjerit kelaparan bukan hanya di sudut
kecil kota, bahkan di tengah kota metropolitan pun keberadaan mereka sangat
mudah ditemukan. Korupsi kini bagaikan makanan wajib pemerintahan kita yang
amat sulit untuk dikendalikan. Segala jenis tindak kriminal mulai dari pencurian,
pembunuhan, hingga pemerkosaan silih berganti datang memenuhi Koran-koran ibukota.
Lalu, dimanakah dirimu wahai pemuda? Masih sanggupkah dirimu menutup mata
diatas segala tangis kepedihan negeri ini?
Wahai pemudaku, jiwa-jiwa hangat
yang berkobar, kami merindukanmu. Kami rindu sosok pemuda yang berani dengan
gagah memerangi ketidakadilan ini. Kami rindu sosok yang mau membela keadilan
negeri bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk segenap lapisan
masyarakat negeri ini, untuk mereka yang sedang menangis merindukan kemerdekaan
mereka, untuk mereka yang tertunduk tanpa bisa menolak segala kesengsaraan yang
mereka terima.
Dimana dirimu wahai pemudaku? Kami
rindu sosok-sosok bijak yang mampu mengembalikan Indonesia kami yang dulu.
Rindu orang-orang yang mau merelakan segenap jiwa raganya hanya untuk melihat
kesejahteraan bangsa ini. Kami merindukan sosokmu wahai pemuda yang jujur dan
amanah, kami merindukan dirimu ikut duduk di tengah pemerintahan kita yang
kacau balau, dirimu yang ikut membenahi negeri ini secara langsung.
Kami merindukanmu wahai pemuda.
Dirimu yang pintar dan mampu mengaplikasikan jiwa pancasila, lambang Negara
kita. Dirimu yang sibuk bersekolah untuk kembali mengabdikan ilmumu untuk
kembali kepada negeri ini. Dirimu yang haus akan ilmu pengetahuan politik dan
segala jenis ilmu lainnya hanya untuk memperbaiki negeri tercinta ini.
Dimanakah dirimu? Masih adakah
jiwa-jiwa besar dengan kobaran semangat seperti itu di negeri ini? Masih
dapatkah bangsa ini merasakan hadirmu? Masihkah dirimu memilih sibuk berdiam
diri dengan segenap urusanmu dan menutup mata melihat ketidakberdayaan
masyarakat di sekelilingmu? Kami percaya, segenap bangsa ini masih percaya
bahwa jiwa-jiwa itu masih ada di dalam diri kalian, terkerangkang dan hanya
menunggu waktu untuk melapaskan diri dan bebas. Datanglah, bebaslah, bukalah
matamu, kembalilah pada kami wahai pemudaku.
Komentar
Posting Komentar